
MBN / NTT, Flores Timur — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gentaskin mengawali hari pertama pengabdian di Desa Lewopao, Kecamatan Adonara Tengah, Kabupaten Flores Timur, dengan melaksanakan pembuatan pupuk bokashi berbahan limbah organik, Senin (13/7/2026). Program kerja perdana ini menjadi langkah awal dalam mendukung pertanian ramah lingkungan sekaligus mempersiapkan kegiatan pembukaan lahan dan penanaman yang akan dilaksanakan pada tahapan berikutnya.

Kegiatan tersebut diikuti oleh mahasiswa KKN-T Gentaskin yang berasal dari Universitas Nusa Nipa Indonesia, Universitas Katolik Indonesia St. Paulus Ruteng, Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat St. Ursula, STIKes St. Elisabeth Keuskupan Maumere, Universitas Flores Ende, Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero, Universitas Muhammadiyah Maumere, serta STIPER Flores Bajawa.

Sejak pukul 09.00 WITA, seluruh mahasiswa berkumpul di belakang Kantor Desa Lewopao, Dusun 2 lokasi salah satu tempat tinggal peserta KKN. Selanjutnya, mereka bergotong royong mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan untuk pembuatan bokashi, seperti daun gamal, sabut kelapa, batang pisang, daun-daun kering, air, serta kotoran ternak dari unggas maupun ternak ruminansia. Sabut kelapa dimanfaatkan sebagai pengganti sekam padi karena lebih mudah diperoleh di Desa Lewopao.
Dalam proses pembuatannya, kotoran ternak yang telah dikeringkan terlebih dahulu dicampurkan dengan arang sabut kelapa dan daun gamal yang telah dicacah. Setelah seluruh bahan tercampur rata, mahasiswa menambahkan larutan pupuk organik cair (POC) sebagai dekomposer dengan perbandingan satu tutup botol untuk satu liter air. Larutan tersebut dipercikkan secara merata sambil bahan terus diaduk hingga mencapai kelembapan yang sesuai sebelum difermentasi di tempat yang tertutup.
Koordinator KKN-T Gentaskin Desa Lewopao, Kristoforus Raja, mengatakan program pembuatan pupuk bokashi dipilih sebagai kegiatan pertama karena sebagian besar masyarakat Desa Lewopao berprofesi sebagai petani.
“Program ini kami pilih karena mayoritas masyarakat bekerja di sektor pertanian. Kami ingin menghadirkan inovasi yang dapat membantu masyarakat memanfaatkan limbah organik menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi tanaman. Bokashi yang kami buat hari ini juga akan digunakan pada kegiatan pembukaan lahan dan penanaman,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pembuatan bokashi pada hari pertama masih difokuskan sebagai persiapan program lanjutan. Sosialisasi mengenai cara pembuatan, manfaat, dan penggunaan pupuk bokashi kepada masyarakat akan dilaksanakan pada kegiatan berikutnya agar masyarakat dapat memahami sekaligus menerapkannya secara mandiri.
Mahasiswa STIPER Flores Bajawa, Arnoldus Yansen Mere Meo, menjelaskan bahwa bahan-bahan yang digunakan sebagian besar berasal dari lingkungan sekitar sehingga mudah diperoleh masyarakat. Menurutnya, penggunaan dekomposer berfungsi mempercepat proses penguraian bahan organik sekaligus membantu mengurangi bau selama proses fermentasi.
“Kami memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar, seperti daun gamal, sabut kelapa, batang pisang, daun kering, dan kotoran ternak. Dekomposer yang kami gunakan membantu mempercepat proses fermentasi sehingga bokashi dapat dihasilkan dengan lebih baik,” katanya.
Ia menambahkan, pupuk bokashi memiliki banyak manfaat bagi pertanian karena mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kandungan unsur hara, serta mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal. Pupuk ini dapat diaplikasikan pada berbagai jenis tanaman, baik tanaman pangan, hortikultura, maupun tanaman perkebunan seperti kakao, kopi, pala, dan cengkeh.
Melalui program ini, mahasiswa KKN-T Gentaskin berharap pupuk bokashi yang dibuat dapat menjadi contoh bagi masyarakat dalam memanfaatkan limbah organik menjadi pupuk organik yang berkualitas. Setelah proses pembuatan ini, mahasiswa akan melaksanakan sosialisasi dan praktik bersama masyarakat agar pengetahuan tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan setelah masa KKN-T Gentaskin berakhir.
Penulis: Teridius Balang


