Tradisi Weri Mata Ni’i: Bentuk Syukur dan Penghormatan Leluhur Suku Pinggang di Kampung Kopalando

oleh -78 Dilihat
oleh

MBN//NTT – Weri Mata Ni’i merupakan salah satu tradisi adat yang masih dijaga oleh masyarakat Suku Pinggang di Kampung Kopalando. Nama Weri Mata Ni’i berasal dari dua kata, yaitu “weri” yang berarti menanam dan “mata ni’i” yang berarti benih padi. Karena itu, Weri Mata Ni’i dapat diartikan sebagai upacara yang berkaitan dengan penanaman dan perawatan benih padi.

Waktu Pelaksanaan dan Makna Upacara

Upacara ini biasanya dilaksanakan ketika tanaman padi dan jagung di ladang sudah berusia sekitar dua bulan. Pada masa ini, tanaman mulai tumbuh subur sehingga masyarakat mengadakan ritual sebagai ungkapan syukur kepada “Embu Embo” (leluhur) dan “Mori Kraeng” (Tuhan) atas berkat yang telah diberikan.

Bagi masyarakat Klen Pinggang, Weri Mata Ni’i bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan kepada para leluhur yang dipercaya selalu menjaga dan melindungi kehidupan mereka.

Prosesi Upacara

Ritual ini ditandai dengan penyembelihan seekor ayam dan penyajian sesaji berupa “Kolo”, yaitu nasi yang dimasak di dalam bambu. Sesaji tersebut dipersembahkan sebagai tanda syukur sekaligus permohonan agar tanaman padi dan jagung tetap tumbuh dengan baik hingga masa panen.

Pau Manuk: Menyampaikan Doa kepada Leluhur

Sebelum ayam disembelih, dilakukan prosesi yang disebut “Pau Manuk”. Dalam prosesi ini, ayam digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan doa dan harapan kepada para leluhur. Ritual dipimpin oleh kepala suku atau tetua adat yang dipercaya oleh masyarakat.

Pada akhir prosesi, diucapkan doa adat:

“Gau manuk sama Pange Za’o, sama surut Za’o pedu meze lode zemu Koko dou lakas tiba, nggoi urat manuk.”

Doa ini berisi permohonan agar leluhur menjaga tanaman padi dan jagung, memberikan kesuburan, serta memberkati masyarakat dengan hasil panen yang melimpah.

Persembahan Sesaji

Setelah ayam disembelih, darahnya diteteskan pada batu dan kayu ritual yang telah ditanam sebelumnya. Batu dan kayu tersebut menjadi simbol tempat persembahan. Setelah itu, sesaji berupa nasi Kolo, daging ayam, dan sedikit Moke disajikan di tempat tersebut.

Masyarakat Suku Pinggang percaya bahwa para leluhur akan datang untuk menerima persembahan itu dan memberikan berkat bagi ladang mereka.

Makna Tradisi

Bagi masyarakat Suku Pinggang, Weri Mata Ni’i bukan hanya tentang pertanian, tetapi juga tentang menjaga hubungan dengan leluhur, mengungkapkan rasa syukur, dan memohon perlindungan bagi kehidupan mereka. Tradisi ini menjadi bagian penting dari identitas budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur, alam, dan Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.