MBN || MATIM NTT, Kampung Kopalando, Desa Ranakolong Kolong, Kabupaten Manggarai Timur — Suku Pinggang di Kampung kopalando kembali menggelar ritual adat Tapa Kolo, sebuah tradisi turun-temurun yang dilaksanakan setiap tahun ketika tanaman padi memasuki usia tiga bulan, pada Minggu, 22/02/2026.
Tapa Kolo yang secara harfiah berarti “bakar nasi bambu” merupakan ritual sakral yang telah diwariskan oleh para leluhur. Tradisi ini tidak sekadar menjadi seremoni adat, tetapi juga mengandung makna spiritual yang mendalam bagi Suku Pinggang sebagai bentuk penghormatan kepada nenek moyang.
, Kampung Kopalando, Desa Ranakolong Kolong, Kabupaten Manggarai Timur — Suku Pinggang di Kampung Kopalando kembali menggelar ritual adat Tapa Kolo, sebuah tradisi turun-temurun yang dilaksanakan setiap tahun ketika tanaman padi memasuki usia tiga bulan, pada Minggu, 22/02/2026.
Tapa Kolo yang secara harfiah berarti “bakar nasi bambu” merupakan ritual sakral yang telah diwariskan oleh para leluhur. Tradisi ini tidak sekadar menjadi seremoni adat, tetapi juga mengandung makna spiritual yang mendalam bagi Suku Pinggang sebagai bentuk penghormatan kepada nenek moyang.
Pelaksanaan ritual ini bertujuan untuk memohon berkat dan perlindungan dari leluhur, serta meminta curah hujan yang cukup agar tanaman padi dan jagung tetap tumbuh segar dan subur. Dalam kepercayaan adat setempat, keseimbangan antara manusia, alam, dan roh leluhur harus terus dijaga agar kehidupan berjalan harmonis dan hasil panen melimpah.
Prosesi Tapa Kolo diawali dengan persiapan bahan-bahan yang akan digunakan dalam upacara, termasuk beras yang dimasukkan ke dalam bambu untuk kemudian dibakar. Pembakaran nasi bambu menjadi simbol doa dan harapan yang dipanjatkan kepada Sang Pencipta dan para leluhur.
Sebagai bagian penting dari ritual, dilakukan pula pemotongan ayam sebagai hewan kurban. Ayam tersebut dipersembahkan dalam upacara adat sebagai simbol pengorbanan dan kesungguhan doa. Setiap tahapan prosesi dijalankan sesuai tata cara adat yang telah ditetapkan secara turun-temurun.
Ritual Tapa Kolo juga menjadi momentum penting bagi Suku Pinggang untuk mempererat ikatan kekerabatan serta meneguhkan identitas budaya mereka di tengah perkembangan zaman. Melalui tradisi ini, nilai-nilai kebersamaan, penghormatan terhadap alam, serta kesetiaan pada warisan leluhur terus dipelihara.
Dengan tetap dilaksanakannya ritual Tapa Kolo setiap tahun, Suku Pinggang di Kampung Kopalando menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga dan melestarikan budaya adat sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka.
Teridius Balang






