
Kegiatan ini diinisiasi oleh Pak Mukib dan Ibu Sekisun, yang merupakan masyarakat asli di wilayah tersebut. Mereka mengajak masyarakat untuk berkumpul dan bersama-sama melaksanakan tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan dan kearifan lokal masyarakat Dayak Ketapang.

Bagi masyarakat yang menjalankan tradisi ini, Palas Benu’a bukan sekadar sebuah ritual, tetapi juga bagian dari warisan leluhur yang mengandung nilai kebersamaan, penghormatan terhadap alam, serta harapan akan datangnya hujan.
Kemarau yang cukup panjang membuat masyarakat semakin merasakan dampaknya. Tanah mulai mengering, sumber air berkurang, dan aktivitas masyarakat yang bergantung pada kondisi alam turut terdampak.
Di tengah kerinduan terhadap turunnya hujan, masyarakat Desa Pelanjau Jaya pun berkumpul. Mereka membawa satu harapan yang sama: semoga langit kembali menurunkan hujan, tanah kembali basah, tanaman kembali tumbuh, dan kehidupan masyarakat kembali berjalan dengan baik.
Palas Benu’a sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah perkembangan zaman, kearifan lokal dan tradisi leluhur masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat. Tradisi tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul, mempererat persaudaraan, sekaligus menyampaikan harapan di tengah ujian alam yang sedang dihadapi.
Dari Desa Pelanjau Jaya, masyarakat menitipkan sebuah harapan sederhana: semoga hujan segera turun membasahi bumi Ketapang.
