
Sebelum jatuh sakit, kehidupan rumah tangga Samuel bersama istrinya berjalan dengan baik. Namun, ketika ia terserang stroke berat, Samuel harus dilarikan ke rumah sakit di Kota Ketapang dan menjalani perawatan selama kurang lebih satu bulan, yakni sejak April hingga akhir Mei 2025.
”Pada awal saya sakit, istri saya masih merawat saya selama satu bulan penuh di rumah sakit dan sebulan berikutnya di rumah kontrakan BTN di Ketapang. Namun setelah kami pulang ke kampung dan saya dirawat di rumah, tiba-tiba saya ditinggalkan begitu saja tanpa ada masalah apa pun. Hanya sesekali ia pulang untuk memberi makan, kemudian langsung pergi tanpa pamit sambil marah-marah, padahal saya tidak mengetahui kesalahan apa yang telah saya lakukan. Dalam kondisi seperti itu, saya berusaha menggerakkan anggota tubuh agar bisa mencari makan sendiri demi bertahan hidup. Keadaan tersebut berlangsung selama kurang lebih tiga bulan hingga kabar tentang kondisi saya sampai ke telinga adik perempuan saya. Saya kemudian dijemput menggunakan mobil pikap dan dibawa ke rumahnya. Sejak saat itu hingga sekarang, saya dirawat oleh adik perempuan saya yang ketiga beserta suaminya,” ujar Samuel sambil menahan air mata.
Samuel juga mengungkapkan bahwa dirinya memiliki aset berupa kebun sawit plasma di dua koperasi yang berbeda. Salah satunya berada di Koperasi MUTS dengan pendapatan sekitar Rp1 juta per bulan, sedangkan kebun plasma yang bermitra dengan PT Sinar Mas mampu menghasilkan pendapatan antara Rp7 juta hingga Rp11 juta setiap bulannya.
Namun, menurut pengakuannya, sejak ditinggalkan sang istri, ia tidak lagi menerima maupun menikmati hasil dari aset tersebut.
”Saya memiliki dua kebun sawit plasma di koperasi yang berbeda. Satu di Koperasi MUTS dengan penghasilan sekitar Rp1 jutaan per bulan, dan satu lagi yang bermitra dengan PT Sinar Mas dengan penghasilan antara Rp7 juta sampai Rp11 juta per bulan. Namun sejak saya ditinggalkan dan tidak lagi dipedulikan, seluruh hasil itu diambil alih oleh istri saya. Hingga hari ini, saya tidak pernah menerima ataupun menikmati hasilnya, bahkan satu rupiah pun tidak,” ungkap Samuel sambil menangis.
Selain itu, Samuel menjelaskan bahwa sebelumnya ia juga memiliki dua unit dump truck dan satu unit mobil Toyota Avanza. Namun seluruh aset tersebut telah dijual untuk membiayai pendidikan kedua anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi di Pontianak pada bidang ilmu gizi.
Ke depan, Samuel berharap ada kejelasan mengenai status rumah tangganya agar persoalan yang dihadapinya dapat diselesaikan secara kekeluargaan maupun melalui mekanisme adat yang berlaku.
”Saya berharap ada kejelasan status dengan istri saya agar persoalan ini dapat diselesaikan secara baik-baik, baik melalui musyawarah keluarga maupun secara adat. Bagaimanapun juga, kami memiliki dua orang anak yang kini telah dewasa dan sudah bekerja,” harapnya.
