Karhutla Putus Jalur Pergerakan, Induk dan Dua Anak Orangutan Dievakuasi dari Kebun Warga

oleh -84 Dilihat
oleh

MBN / Ketapang, 21 Agustus 2026 — Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), dan masyarakat berhasil melakukan evakuasi tiga individu orangutan dari area perkebunan masyarakat di Desa Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Evakuasi dilakukan menyusul meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah memengaruhi habitat dan jalur pergerakan orangutan di wilayah tersebut. Tiga individu orangutan ini terdiri dari induk dan dua anak, satu bayi dan satu individu remaja .

Ketiganya kemudian diberi nama Mama Yuni, Yuni, dan Pura. Evakuasi dilakukan setelah orangutan tersebut mendekati pemukiman warga dan terjebak karena areal jelajah mereka dan konektivitas ke hutan hancur terbakar.

Ketiga orangutan ini telah terpantau berada di kawasan perkebunan masyarakat desa Tanjungpura sejak awal 2026. Selama kurun waktu tersebut, tim Orangutan Protection Unit (OPU) YIARI secara aktif melakukan pemantauan keberadaan orangutan yang mempunya potensi interaksi negatif di berbagai wilayah di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, termasuk di Tanjungpura. Walaupun hutan di daerah tersebut telah terfragmentasi oleh perkebunan masyarakat, mereka masih bisa bertahan hidup di kawasan hutan yang tersisa.

Namun, kebakaran besar pada Juli dan Agustus 2026 menghanguskan fragmen hutan yang menjadi satu-satunya jalur pergerakan mereka dan menghilangkan area pergerakan sekaligus pakan yang tersedia. Akibatnya, orangutan terjebak di kawasan perkebunan yang berbatasan langsung dengan permukiman masyarakat. Berdasarkan hasil pemantauan dan asesmen lapangan, BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI kemudian memutuskan untuk melakukan evakuasi terhadap orangutan yang berada dalam kondisi terancam, mengingat juga bahwa titik api masih ada di beberapa wilayah di desa ini dan sekitarnya.

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, mengatakan bahwa berulangnya kasus penyelamatan orangutan ini menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan perubahan tutupan lahan bukan lagi sekadar ancaman sesaat, melainkan tekanan jangka panjang terhadap keberlangsungan habitat orangutan. “Kasus yang kembali terjadi di wilayah ini menunjukkan bahwa persoalan kebakaran dan perubahan tutupan lahan belum selesai. Ketika hutan terbakar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.