PROTEKSI SISTEM TENAGA

oleh -13 Dilihat
oleh

PROTEKSI SISTEM TENAGA

Oleh : Muhammad Jimi Rizaldi, A.Md.,S.ST.,M.T.,MCE.,CPLA

1. Pengertian Proteksi Sistem Tenaga

Proteksi sistem tenaga adalah sistem yang digunakan untuk mendeteksi gangguan dan memisahkan bagian sistem yang terganggu, sehingga kerusakan tidak meluas dan sistem tetap aman.

2. Tujuan Proteksi

Tujuan utamanya:

  • Melindungi peralatan listrik.
  • Melindungi manusia/operator.
  • Mencegah gangguan meluas.
  • Menjaga kontinuitas pelayanan listrik.
  • Mempercepat pemulihan sistem.

3. Gangguan pada Sistem Tenaga

Gangguan yang umum:

  • Hubung singkat 3 fasa
  • Hubung singkat 2 fasa
  • 1 fasa ke tanah
  • 2 fasa ke tanah
  • Beban lebih (overload)
  • Gangguan tegangan lebih/rendah
  • Frekuensi lebih/rendah.

4. Zona Proteksi

Sistem tenaga dibagi menjadi beberapa zona proteksi, misalnya:

  • Generator
  • Transformator
  • Busbar
  • Saluran transmisi
  • Saluran distribusi
  • Motor besar

Tujuannya agar ketika terjadi gangguan, hanya bagian yang bermasalah yang dilepaskan.

5. Relay Proteksi

Relay adalah perangkat yang mendeteksi kondisi abnormal dan memberikan perintah kepada pemutus tenaga (circuit breaker/CB).

Contoh:

  • Overcurrent relay (OCR), Fungsinya : Mendeteksi arus yang melebihi nilai setting akibat beban lebih atau hubung singkat.

    Kode ANSI: 50 = instantaneous overcurrent, 51 = time overcurrent.
  • Earth fault relay (GFR), Fungsinya: Mendeteksi arus gangguan yang mengalir ke tanah.

    Kode umum: 50N/51N atau 50G/51G.
  • Differential relay, Fungsinya: Membandingkan arus yang masuk dan keluar dari zona yang dilindungi. Banyak digunakan pada transformator, generator, dan busbar.
    Kode ANSI: 87

    Prinsip sederhananya:
    Arus masuk ≠ arus keluar → indikasi gangguan internal → relay trip.

  • Distance relay, FUndernya: Mengukur impedansi saluran berdasarkan perbandingan tegangan dan arus untuk memperkirakan jarak lokasi gangguan.
    Kode ANSI: 21.

    Umumnya digunakan pada saluran transmisi tegangan tinggi.

  • Under/over voltage relay, Fungsinya: Mendeteksi tegangan terlalu tinggi atau terlalu rendah.

    Kode ANSI:
    27 = Undervoltage relay
    59 = Overvoltage relay
  • Under/over frequency relay, Fungsi: Mendeteksi frekuensi sistem yang terlalu rendah atau terlalu tinggi.

    Kode ANSI: 81

6. Circuit Breaker (CB)

CB berfungsi memutus arus gangguan setelah mendapat perintah dari relay.

Sederhananya:

Gangguan → CT/PT → Relay → Trip → CB membuka

Jenis-Jenis CB :

1. SF₆ Circuit Breaker
Menggunakan gas SF₆ (Sulfur Hexafluoride) sebagai media isolasi dan pemadaman busur api.
Banyak digunakan pada sistem tegangan tinggi dan ekstra tinggi.

2. Vacuum Circuit Breaker (VCB)
Media pemadaman busur api: vakum
Banyak digunakan pada tegangan menengah, misalnya 6,6 kV–20 kV.
Umum pada panel distribusi dan gardu induk.

3. Air Circuit Breaker (ACB)
Menggunakan udara sebagai media pemadaman busur api.
Banyak digunakan pada sistem tegangan rendah, misalnya panel utama gedung atau industri.

Relay mendeteksi gangguan, sedangkan Circuit Breaker (CB/PMT) melaksanakan pemutusan arus listrik.

Pada gardu induk Indonesia, istilah yang sering digunakan adalah PMT (Pemutus Tenaga).

7. CT dan PT

A. CT – Current Transformer

CT adalah transformator arus yang berfungsi mengubah arus besar menjadi arus kecil yang aman untuk diukur oleh relay dan alat ukur.

Contoh:
Arus jaringan: 400 A
CT: 400/5 A
Artinya, saat arus primer 400 A, arus sekunder CT menjadi 5 A.

Fungsi CT:
– Memberikan sinyal arus ke relay.
– Mengisolasi rangkaian tegangan tinggi dari alat ukur.
– Mengukur arus beban dan arus gangguan.

B. PT / VT – Potential Transformer / Voltage Transformer

PT atau VT adalah transformator tegangan yang menurunkan tegangan tinggi menjadi tegangan rendah yang aman untuk relay dan alat ukur.
Contoh:
Tegangan sistem: 20 kV
PT: 20.000/100 V
Artinya, tegangan 20 kV diturunkan menjadi 100 V.

Fungsi PT/VT:

– Memberikan informasi tegangan ke relay.

– Digunakan pada distance relay.

– Digunakan pada overvoltage dan undervoltage relay.

– Mengukur tegangan sistem.

8. Prinsip Dasar Proteksi

Proteksi yang baik harus mempunyai:

  • Selektivitas → bagian yang terganggu saja yang diputus.
  • Kecepatan → gangguan diputus secepat mungkin.
  • Sensitivitas → mampu mendeteksi gangguan kecil sekalipun.
  • Keandalan → bekerja ketika diperlukan.
  • Ekonomis → biaya sesuai tingkat kepentingan sistem.

9. Contoh Sederhana

Misalnya terjadi hubung singkat pada saluran distribusi.

Arus naik → OCR mendeteksi → relay bekerja → CB trip → saluran yang terganggu terputus.

Dengan demikian, gangguan tidak sampai menyebabkan seluruh sistem padam.

10. Materi Kuliah

Untuk mahasiswa Teknik Elektro, urutannya

Pertemuan 1: Pengantar sistem proteksi
Pertemuan 2: Jenis-jenis gangguan
Pertemuan 3: CT, PT, dan CB
Pertemuan 4: Relay proteksi
Pertemuan 5: OCR dan GFR
Pertemuan 6: Koordinasi proteksi
Pertemuan 7: Differential protection
Pertemuan 8: UTS
Pertemuan 9: Distance protection
Pertemuan 10: Proteksi generator
Pertemuan 11: Proteksi transformator
Pertemuan 12: Proteksi busbar
Pertemuan 13: Proteksi jaringan distribusi/transmisi
Pertemuan 14: Analisis gangguan dan setting relay
Pertemuan 15: Studi kasus/simulasi
Pertemuan 16: UAS

Semoga penjelasan singkat ini bisa menjadi acuan untuk matakuliah Proteksi Sistem Tenaga diseluruh Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.