Posyandu ILP Hadir di Haju Ngandong, Mahasiswa KKN GENTASKIN Gencar Edukasi Cegah Stunting di Manggarai Timur

oleh -168 Dilihat
oleh

Manggarai Timur, NTT – Langkah konkret dalam upaya percepatan penurunan angka stunting kembali diwujudkan melalui sinergi antara mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Gerakan Nasional Tuntas Stunting (GENTASKIN) dan tenaga kesehatan di Desa Haju Ngandong, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Pada kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 16 Juli 2026 tersebut, mereka menggelar Posyandu dengan pendekatan Integrasi Layanan Primer (ILP) yang menghadirkan layanan kesehatan holistik tidak hanya untuk balita dan ibu hamil, melainkan mencakup seluruh siklus hidup masyarakat, mulai dari remaja, dewasa, hingga lanjut usia. Inovasi ini menjadi angin segar bagi warga pedesaan yang selama ini kesulitan mengakses pemeriksaan kesehatan menyeluruh akibat keterbatasan jarak dan transportasi menuju puskesmas, sehingga sejak pagi hari puluhan warga sudah tampak antusias memadati balai desa setempat untuk memperoleh layanan kesehatan yang selama ini jarang mereka dapatkan secara komprehensif dalam satu lokasi.

Dalam pelaksanaannya, Posyandu ILP yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga selesai tersebut menyediakan berbagai paket layanan terpadu yang meliputi skrining kesehatan seperti pemeriksaan tekanan darah, gula darah, serta pengukuran indeks massa tubuh untuk mendeteksi secara dini risiko penyakit tidak menular dan masalah gizi yang kerap tidak disadari oleh masyarakat. Selain itu, layanan spesifik untuk ibu dan anak juga tetap menjadi prioritas utama dengan adanya pemantauan tumbuh kembang balita melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan, imunisasi dasar lengkap, serta pemberian makanan tambahan bergizi bagi balita dan ibu hamil yang tergolong dalam kategori kurang gizi, yang pada hari itu tercatat sebanyak 12 balita dan 5 ibu hamil menerima bantuan pangan bergizi. Yang membedakan kegiatan ini dengan posyandu pada umumnya adalah sesi sosialisasi dan edukasi intensif yang diselipkan di sela-sela pemeriksaan, di mana mahasiswa dan bidan desa memberikan penyuluhan mengenai konsep “Isi Piringku” sebagai panduan gizi seimbang, pentingnya pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama, serta teknik pengolahan pangan lokal berbasis sumber daya desa seperti umbi-umbian dan kacang-kacangan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga secara mandiri dan berkelanjutan tanpa harus bergantung pada makanan instan yang mahal.

Ketua tim KKN GENTASKIN setempat menjelaskan bahwa pendekatan integratif ini sengaja dipilih karena pencegahan stunting tidak dapat ditangani secara parsial, melainkan membutuhkan intervensi yang menyentuh seluruh anggota keluarga, mulai dari calon pengantin, ibu hamil, bayi, hingga orang tua yang mengasuh anak. Menurutnya, edukasi juga diberikan secara khusus kepada kelompok remaja putri yang hadir pada kegiatan tersebut mengenai pencegahan anemia sejak dini melalui konsumsi tablet tambah darah dan makanan kaya zat besi, karena mereka adalah calon ibu yang kelak akan melahirkan generasi penerus bangsa yang bebas dari stunting. Sementara itu, para lansia yang turut hadir tidak luput dari perhatian, mengingat kesehatan mereka yang optimal turut menunjang pengasuhan anak cucu di rumah, sehingga dilakukan pula pemeriksaan kesehatan rutin bagi mereka yang berusia di atas 60 tahun guna mendeteksi hipertensi dan diabetes sejak awal. Bidan desa Haju Ngandong yang turut mendampingi jalannya kegiatan mengapresiasi inisiatif ini karena mampu menjangkau akar permasalahan kesehatan di tingkat keluarga, sekaligus meringankan beban puskesmas yang selama ini harus melayani pasien dengan kapasitas terbatas, serta mencatat bahwa pada hari itu total ada 87 warga dari berbagai kelompok usia yang telah terlayani.

Kegiatan yang merupakan bagian dari program nasional KKN Tematik yang diinisiasi oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV ini, secara spesifik ditempatkan di kabupaten-kabupaten prioritas penanganan stunting, dan Manggarai Timur menjadi salah satu lokus utama karena prevalensi stunting di wilayah NTT yang masih berada di atas rata-rata nasional, yakni mencapai 31,2 persen berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan. Dengan adanya kolaborasi antara akademisi, tenaga kesehatan, dan pemerintah desa yang telah berjalan sejak awal Juli 2026, diharapkan masyarakat Desa Haju Ngandong tidak hanya menjadi objek pelayanan, tetapi juga subjek yang sadar akan pentingnya pola hidup sehat dan gizi seimbang, terlebih dengan adanya komitmen dari kepala desa setempat yang turut membuka acara dan menjanjikan dukungan penuh terhadap keberlanjutan program ini. Ke depan, program pendampingan berkelanjutan akan terus dilakukan oleh mahasiswa KKN selama masa tugas mereka hingga Oktober mendatang, dengan target jangka panjang terbentuknya kader-kader posyandu yang terlatih dan mampu meneruskan edukasi ini secara mandiri, sehingga gerakan pencegahan stunting dapat berjalan secara berkesinambungan tanpa henti demi terciptanya generasi emas Manggarai Timur yang bebas dari stunting dan siap bersaing di masa depan.

Kordinator#Ezekiel M. Mbaling #ERNO#

 

Editor#IRTO#

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.