Merawat Tradisi, Suku Pinggang di Kampung Kopalando Gelar Upacara Adat Ghan Woza

oleh -69 Dilihat
oleh
Suasana khidmat upacara adat Ghan Woza yang digelar oleh Suku Pinggang sebagai bentuk syukur atas hasil bumi sekaligus permohonan berkat menjelang musim tanam baru Jumat,17/7/2026.

MBN//NTT//Manggarai Timur – Masyarakat Suku Pinggang di Kampung Kopalando, Desa Ranakolong, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, menggelar upacara adat Ghan Woza pada Jumat (17/7/2026). Ritual adat ini menandai dimulainya musim tanam baru sekaligus menjadi ungkapan syukur atas hasil panen yang telah diperoleh pada musim sebelumnya.

Upacara tersebut dihadiri oleh seluruh masyarakat Suku Pinggang, serta masyarakat dari dua kampung, yakni Kampung Kopalando dan Kampung Bete, yang memiliki hubungan kekerabatan sebagai Anak Winar (keluarga perempuan) dan Anak Ranar (keluarga laki-laki).

Prosesi berlangsung di Mbaru Gendang (rumah adat) Suku Pinggang di Kampung Kopalando. Rangkaian upacara diawali dengan penyembelihan hewan kurban berupa ayam dan babi. Hewan-hewan tersebut kemudian dipersembahkan kepada Gae Kizo (ketua suku) untuk memimpin doa adat atau “Pau” kepada leluhur.

Usai doa dipanjatkan, hewan kurban disembelih. Darahnya kemudian ditempelkan atau dipercikkan pada woza (benih padi), serta pada gong dan gendang sebagai bagian dari prosesi adat. Setelah itu, upacara dilanjutkan dengan ting gendang dan nggong (memukul gendang dan gong) yang diiringi nyanyian adat dalam bahasa Manggarai, Sako Mbata. Seluruh rangkaian ritual berlangsung hingga pagi hari.

Makna Upacara Ghan Woza

Secara etimologis, Ghan Woza berasal dari dua kata, yakni ghan yang berarti makan dan woza yang berarti benih padi. Ghan Woza dimaknai sebagai upacara syukuran panen akhir tahun atas hasil padi dan jagung yang telah diperoleh masyarakat, sekaligus menjadi penanda berakhirnya musim panen dan dimulainya musim tanam baru.

Bagi masyarakat Suku Pinggang, upacara ini merupakan wujud rasa syukur kepada para leluhur yang diyakini telah memberikan hasil panen yang melimpah. Selain itu, ritual ini juga menjadi sarana memohon restu agar musim tanam berikutnya membawa hasil yang baik.

Masyarakat Suku Pinggang juga meyakini bahwa upacara Ghan Woza harus tetap dilaksanakan sebagai warisan leluhur. Menurut kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun, jika ritual ini tidak dijalankan, roh para leluhur dapat memberikan teguran kepada orang yang masih hidup sehingga mengalami sakit atau musibah. Oleh karena itu, tradisi ini terus dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya dan bentuk penghormatan kepada leluhur.

Penulis: Teridius Balang 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.