Merawat Tradisi, Suku Pinggang di Kampung Kopalando Gelar Upacara Adat Ghan Woza

oleh -17 Dilihat
oleh
Suasana khidmat upacara adat Ghan Woja yang digelar oleh Suku Pinggang sebagai bentuk syukur atas hasil bumi sekaligus permohonan berkat menjelang musim tanam baru Jumat,17/7/2026.

MBN//NTT//Manggarai Timur_Masyarakat Suku Pinggang di Kampung Kopalando, Desa Ranakolong, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, menggelar Upacara Adat Ghan Woza pada Jumat (17/7/2026). Ritual adat ini menjadi penanda berakhirnya musim panen sekaligus dimulainya musim tanam baru sebagai bentuk ungkapan syukur atas hasil panen yang telah diperoleh.

Upacara tersebut dihadiri oleh seluruh masyarakat Suku Pinggang serta warga Kampung Kopalando dan Kampung Bete yang memiliki hubungan kekerabatan sebagai Laran (keluarga perempuan) dan Anak Ranar (keluarga laki-laki).

Prosesi berlangsung di Mbaru Gendang (rumah adat) Suku Pinggang di Kampung Kopalando. Rangkaian ritual diawali dengan penyembelihan hewan kurban berupa ayam dan babi yang dipersembahkan sebagai bagian dari upacara adat.

Sebelum ayam disembelih, Gae Kizo (ketua suku) atau Ata Pau memegang ayam sambil memanjatkan doa adat (pau) kepada Wura Seki (roh para leluhur). Dalam doa tersebut, Gae Kizo menyampaikan seluruh harapan, niat, dan permohonan masyarakat menggunakan bahasa adat yang santun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Pada akhir doa, Gae Kizo mengucapkan kalimat adat:

“Gau manuk sama pange za’o, sama surut za’o, pedu meze lode zemu, koko dou, lakas tiba, sama kutu gau wawi nepe ghelek, laran ela, kizo lemang nggoi urat wawi agu manuk.”

Kalimat tersebut kemudian disambut oleh seluruh peserta ritual dengan seruan “Nggoi”, yang berarti baik atau sebagai tanda persetujuan. Prosesi ini melambangkan harapan agar seluruh doa dan permohonan masyarakat diterima serta disampaikan kepada para leluhur.

Setelah doa selesai dipanjatkan, ayam disembelih. Darahnya diteteskan pada Watu Nurung, yakni batu persembahan yang berada di dalam rumah gendang, kemudian dipercikkan pada gong dan gendang sebagai bagian dari prosesi adat.

Ritual kemudian dilanjutkan dengan mbata, yakni memukul gong dan gendang yang diiringi nyanyian adat Sako Mbata. Suasana sakral tersebut berlangsung semalam suntuk hingga pagi hari.

Makna Upacara Ghan Woza

Secara etimologis, Ghan Woza berasal dari dua kata, yakni ghan yang berarti makan dan woza yang berarti benih padi. Upacara ini dimaknai sebagai syukuran atas hasil panen padi dan jagung yang telah diperoleh masyarakat sekaligus menjadi penanda berakhirnya musim panen dan dimulainya musim tanam baru.

Bagi masyarakat Suku Pinggang, Ghan Woza merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan dan para leluhur yang diyakini telah memberikan hasil panen yang melimpah. Ritual ini juga menjadi sarana memohon restu agar musim tanam berikutnya membawa hasil yang baik.

Masyarakat Suku Pinggang meyakini bahwa Upacara Ghan Woza harus terus dilaksanakan sebagai warisan leluhur. Menurut kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun, apabila ritual ini tidak dijalankan, roh para leluhur dapat memberikan teguran kepada keturunannya berupa sakit atau musibah. Karena itu, tradisi ini tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus bentuk penghormatan kepada leluhur.

Waler Urat Manuk Agu Wawi

Salah satu prosesi penting dalam Upacara Ghan Woza adalah Ngguat Urat Manuk Agu Wawi, yakni ritual memperlihatkan usus ayam dan hati babi yang dipimpin oleh Gae Kizo atau Ata Pau.

Setelah ayam dibakar dan dibersihkan, bagian dadanya dibuka sehingga menyisakan usus dan paha. Sementara itu, sebelum babi dibakar, bagian hatinya diambil. Usus ayam dan hati babi kemudian diserahkan kepada Gae Kizo untuk diperiksa dan dibaca sebagai bagian dari prosesi adat.

Masyarakat Suku Pinggang meyakini bahwa urat ayam dan guratan pada hati babi merupakan tanda yang diberikan Tuhan melalui para leluhur mengenai perjalanan hidup masyarakat pada musim yang akan datang.

Apabila urat ayam dan guratan hati babi tampak lurus, bersih, dan sempurna, hal tersebut dimaknai sebagai pertanda baik. Artinya, segala rencana, perjalanan, usaha, maupun musim tanam diyakini akan berjalan lancar serta memperoleh berkat Tuhan dan restu para leluhur.

Sebaliknya, apabila urat ayam maupun guratan hati babi terlihat putus-putus, bercabang, atau tidak sempurna, maka dianggap sebagai tanda peringatan bahwa akan ada hambatan atau tantangan sehingga masyarakat diminta untuk lebih berhati-hati.

Persembahan kepada Leluhur

Setelah prosesi Ngguat Urat Manuk Agu Wawi selesai, paru-paru babi dan ayam (rak) dibuang ke luar rumah melalui pintu bersama beras kosong sebagai persembahan bagi roh-roh halus.

Selanjutnya, sebagian kecil hati babi, jantung, serta jantung dan isi paha ayam dibakar hingga matang. Setelah matang, makanan tersebut dipersembahkan bersama nasi dan tuak di atas Watu Nurung.

Gae Kizo kemudian kembali memanjatkan doa adat untuk memanggil Wura Seki agar datang menerima persembahan tersebut. Masyarakat Suku Pinggang meyakini bahwa roh para leluhur hadir secara spiritual untuk menerima sesajian yang dipersembahkan sebagai bentuk penghormatan dari keturunannya.

Sementara itu, campuran darah ayam dan beras disiramkan pada bagian pintu masuk rumah gendang sebagai persembahan kepada Ata Pale azan, yakni roh-roh yang dipercaya turut hadir mengikuti jalannya ritual.

Warisan Budaya yang Terus Dijaga

Bagi masyarakat Suku Pinggang, seluruh rangkaian Upacara Ghan Woza bukan sekadar ritual adat, melainkan menjadi wujud syukur kepada Tuhan, penghormatan kepada Wura Seki, serta sarana mempererat hubungan kekeluargaan antarmasyarakat.

Tradisi Ngguat Urat Manuk Agu Wawi juga menjadi bagian penting dari warisan budaya Suku Pinggang yang terus dijaga secara turun-temurun. Ayam yang digunakan dalam ritual ini dipilih berdasarkan ketentuan adat yang diwariskan oleh leluhur dan tidak dapat diganti secara sembarangan.

Melalui pelaksanaan Ghan Woza setiap tahun, masyarakat Suku Pinggang berharap nilai-nilai adat, kebersamaan, dan penghormatan kepada leluhur tetap terpelihara sehingga dapat diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari identitas budaya mereka.

Penulis: Teridius Balang 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.