
MANGARAI TIMUR _Sebanyak puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur resmi diterjunkan ke Desa Haju Ngandong, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, dalam rangka program Kuliah Kerja Nyata Tematik Gentaskin atau Gerakan Nasional Orang Tua Asuh Cegah Stunting dan Kemiskinan Ekstrem. Program yang merupakan inisiatif dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Konsorsium Perguruan Tinggi Kosabangsa ini bertujuan mengatasi dua persoalan krusial yang masih menjadi momok di NTT, yakni tingginya angka stunting dan kemiskinan ekstrem. Kehadiran para mahasiswa yang merupakan gabungan dari berbagai kampus di NTT ini disambut dengan antusiasme luar biasa oleh perangkat desa, tokoh adat, dan seluruh warga Desa Haju Ngandong yang memandang kehadiran mereka sebagai angin segar pembawa harapan baru bagi masa depan desa.
Koordinator lapangan KKN Tematik Gentaskin Desa Haju Ngandong menegaskan bahwa meskipun baru saja tiba dan melakukan proses adaptasi dengan masyarakat setempat, para mahasiswa telah menyusun serangkaian program kerja yang siap dijalankan selama masa pengabdian. Mereka datang bukan untuk main-main, melainkan untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat di desa terpencil ini. Para mahasiswa yang tergabung dalam program ini berasal dari multidisiplin ilmu, mulai dari kesehatan masyarakat, pertanian, peternakan, ekonomi, hingga pendidikan, yang akan bahu-membahu menyusun dan menjalankan strategi jitu di empat sektor vital yang menjadi denyut nadi kehidupan warga Desa Haju Ngandong. Program ini tidak hanya melibatkan satu institusi, tetapi merupakan kolaborasi sejati lintas perguruan tinggi se-NTT yang tergabung dalam Konsorsium Kosabangsa, menunjukkan bahwa pembangunan NTT tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri melainkan membutuhkan sinergi dan kebersamaan.
Pada sektor pertama, edukasi gizi dan kesehatan, para mahasiswa berencana turun langsung ke setiap rumah untuk memeriksa status gizi balita dengan alat ukur presisi dan menggelar kelas memasak makanan bergizi berbahan lokal murah meriah bagi para ibu. Mereka akan menanamkan pemahaman bahwa melawan stunting tidak perlu mahal, asalkan tepat gizi dan konsisten, dengan fokus utama pada pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Mahasiswa dari program studi kesehatan juga akan memberikan penyuluhan tentang pola makan sehat dan gizi seimbang untuk mencegah stunting, serta melakukan pemantauan pertumbuhan balita secara berkala. Pada sektor kedua, sanitasi lingkungan dan air bersih, tim mahasiswa akan memimpin gerakan bersih-bersih lingkungan dan membangun kesadaran akan pentingnya jamban sehat, serta bekerja sama dengan warga menggali saluran air, memperbaiki sumber mata air, dan memberikan pelatihan membuat filter air sederhana karena air adalah fondasi kesehatan dan jika air kotor maka tubuh akan sakit.
Pada sektor ketiga, pemberdayaan ekonomi keluarga dan UMKM desa, para mahasiswa ekonomi dan pertanian berencana menggelar pelatihan bisnis dengan mengajari ibu-ibu PKK bagaimana mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai jual tinggi, mengemasnya dengan cantik, dan memasarkannya lewat platform digital. Kelompok tani juga akan didampingi untuk menggunakan sistem pertanian terpadu yang ramah lingkungan demi meningkatkan hasil panen, sehingga masyarakat tidak hanya diberi ikan tetapi diajari menangkap ikan dengan jaring yang lebih kuat dan modern. Pada sektor keempat, literasi dan pendidikan, para mahasiswa akan mengadakan kelas bimbingan belajar dan taman bacaan keliling pada malam hari, membagikan buku-buku cerita, menggambar, serta belajar sains sederhana kepada anak-anak yang diharapkan dapat mengobarkan kembali semangat belajar yang selama ini mungkin redup karena keterbatasan akses pendidikan di daerah terpencil.
Program KKN Tematik Gentaskin ini bukan sekadar pengabdian biasa, melainkan menjadi ruang pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa yang tidak hanya memberikan ilmu tetapi juga belajar langsung dari problematika empirik yang dihadapi masyarakat, yang nantinya dapat menjadi bekal untuk penelitian skripsi mereka. Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah XV, Prof. Dr. Adrianus Amheka, menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa bukan hanya untuk memberikan ilmu, tetapi juga menjadi tokoh belajar dan pembelajar bagi masyarakat, serta menjadi ujung tombak dalam menurunkan angka stunting yang saat ini menjadi musuh bersama. Program ini diharapkan menjadi model penguatan kapasitas daerah yang bisa direplikasi secara nasional, sekaligus menumbuhkan generasi mahasiswa yang kompeten, peduli, dan berdampak bagi masyarakat luas. Setelah proses adaptasi dan persiapan selesai, para mahasiswa akan segera tancap gas menjalankan seluruh program yang telah direncanakan dengan harapan dapat membawa perubahan nyata bagi Desa Haju Ngandong.
Dengan dimulainya program ini, diharapkan ke depannya wajah-wajah ceria warga akan mulai terlihat, para ibu mulai memahami pentingnya makanan bergizi, anak-anak semakin rajin belajar, dan para pemuda mulai berani berwirausaha. Program ini bukan hanya mengejar target statistik, tetapi sedang menanamkan benih-benih perubahan budaya yang berkelanjutan. Jika gerakan ini konsisten dan didukung penuh oleh pemerintah daerah serta seluruh elemen masyarakat, bukan tidak mungkin Desa Haju Ngandong akan menjadi pilot project bagaimana sebuah desa terpencil bisa bangkit, sehat, cerdas, dan sejahtera. NTT yang sudah lama haus akan perubahan kini mulai mendapatkan jawaban melalui kehadiran para mahasiswa yang menjadi pahlawan tanpa tanda jasa yang memilih berjuang di balik perbukitan. Dan ketika mereka kembali ke kampus, mereka akan meninggalkan jejak yang tak terhapuskan, sebuah desa yang mulai bangkit dan harapan yang mulai bersinar terang bagi masa depan NTT dan Indonesia pada umumnya.
#kordinator##Ezekiel M. Mbaling (ERNO)
Editor# IRTO

