MBN || KALBAR – Tragedi yang menimpa seorang anak di Kabupaten Ngada tentu melukai hati semua orang, termasuk saya sebagai calon pendidik. Kehilangan nyawa seorang anak seharusnya menjadi peristiwa yang mengguncang nurani bersama. Namun, lebih dari sekadar duka, saya merasa perlu menyoroti beberapa kejanggalan yang saya temukan dalam sejumlah pemberitaan, khususnya pada pemilihan diksi yang digunakan media.
Salah satu kalimat yang digunakan adalah: “ditemukan meninggal dunia di kediamannya.” Secara sepintas, kalimat ini tampak netral dan aman. Namun, justru di sanalah persoalan bermula. Diksi “meninggal dunia” umumnya digunakan untuk kematian alami atau peristiwa yang tidak mengandung unsur kekerasan, tekanan, maupun tragedi sosial. Ketika frasa ini disandingkan dengan kata “ditemukan” dan keterangan tempat “di kediamannya”, maka peristiwa yang sesungguhnya kompleks secara sosial dan psikologis menjadi terdengar biasa dan sunyi dari makna krisis.
Pilihan diksi tersebut tidak hanya mengaburkan jenis kematian, tetapi juga menjinakkan kenyataan. Bahasa yang digunakan seolah memisahkan peristiwa kematian dari konteks yang melingkupinya—kemiskinan, tekanan psikososial, kegagalan sistem perlindungan anak, serta absennya negara dalam memastikan hak dasar warga paling rentan. Tragedi yang seharusnya menjadi alarm sosial justru tampil sebagai peristiwa domestik yang tertutup.
Dalam perspektif jurnalistik, bahasa bukan sekadar alat menyampaikan fakta, melainkan juga cara membingkai tanggung jawab. Kesalahan diksi dalam penulisan berita berpotensi menetralkan tragedi, mengaburkan akar masalah, dan pada akhirnya menghadirkan kesan bahwa negara tidak sedang gagal melindungi warganya. Ketika kata-kata dipilih terlalu lunak, kegagalan struktural perlahan menghilang dari ruang publik.
Sebagai calon pendidik, saya meyakini bahwa kepekaan terhadap bahasa adalah bagian dari pendidikan itu sendiri. Anak-anak belajar bukan hanya dari buku pelajaran, tetapi juga dari cara masyarakat dan media menarasikan peristiwa. Jika tragedi anak dibungkus dengan bahasa yang menenangkan, maka kita sedang mengajarkan bahwa kehilangan nyawa dapat diterima tanpa pertanyaan yang lebih dalam.
Kritik terhadap diksi bukanlah upaya menghakimi media, melainkan panggilan untuk lebih jujur dalam membaca realitas. Sebab dalam tragedi sosial, bahasa yang keliru bukan kesalahan kecil. Ia bisa mengubah arah empati publik dan, yang lebih berbahaya, membuat kegagalan terasa seolah tidak pernah terjadi.
Penulis: Viktor Anggalo Nodet (Mahasiswa).






