Kebakaran Masih Mengancam, Delapan Orangutan Terdampak Karhutla Dilepasliarkan ke Hutan Lindung Batu Nyambu

oleh -17 Dilihat
oleh

MBN / Ketapang, Kalimantan Barat, 11 Oktober 2026 – Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Ketapang Utara dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), melakukan translokasi delapan orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ke kawasan Hutan Lindung Batu Nyambu, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Jumat, (9/1). Kegiatan ini juga didukung secara langsung oleh Camat Hulu Sungai, masyarakat, unsur TNI-Polri, serta pemangku adat.

Delapan orangutan yang terdiri dari tiga pasangan induk dan anak serta dua individu jantan remaja tersebut sebelumnya diselamatkan dari sejumlah lokasi terdampak karhutla di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara sepanjang Agustus – September 2026. Kebakaran yang melanda habitat mereka telah menghilangkan tutupan hutan, memutus keterhubungan antarkawasan, dan menyebabkan orangutan terjebak di area perkebunan dengan sumber pakan serta ruang hidup yang sangat terbatas.

Dua di antaranya adalah Mama Man dan bayinya, Man, yang berasal dari Desa Tempurukan, Kabupaten Ketapang. Keduanya telah terpantau sejak pertengahan Juni 2026 di area perkebunan warga yang berbatasan dengan sepetak hutan. Namun, kebakaran yang meluas hingga mendekati lokasi tersebut membuat habitat mereka semakin terbatas, tanpa jalur aman menuju kawasan hutan lainnya. Ancaman api dan paparan asap akhirnya mengharuskan keduanya dievakuasi pada 3 September 2026.

Empat individu lainnya, yakni Mama Nopi bersama anaknya, Nopi, serta dua orangutan jantan remaja, Naufal dan Nopan, berasal dari Desa Pemangkat, Kabupaten Kayong Utara. Sebelum diselamatkan pada 4 September 2026, keempatnya bertahan di area perkebunan kelapa dan karet milik warga setelah kebakaran menghanguskan hutan di sekitarnya. Terputusnya jalur penghubung antar kawasan hutan membuat ruang jelajah dan akses terhadap sumber pakan semakin terbatas, sekaligus meningkatkan risiko interaksi negatif dengan manusia.

Sementara itu, pasangan induk dan anak lainnya, Mama Lifa dan Lifa, berasal dari Desa Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang. Keduanya ditemukan terisolasi di antara beberapa pohon akasia pada area seluas sekitar 400 meter persegi yang dikelilingi perkebunan kelapa sawit. Kondisi habitat yang terdampak kebakaran dan tidak lagi menyediakan sumber pakan memadai mendorong penyelamatan keduanya pada 18 September 2026.

Kondisi habitat asal yang telah terbakar, terfragmentasi, dan tidak lagi mendukung kebutuhan hidup orangutan menjadi pertimbangan utama dalam pelaksanaan translokasi ini. Pemindahan ke Hutan Lindung Batu Nyambu diharapkan memberikan kesempatan bagi kedelapan orangutan tersebut untuk kembali hidup secara alami di kawasan hutan yang memiliki sumber pakan, ruang jelajah, dan daya dukung ekologis yang memadai.

Setelah diselamatkan, orangutan-orangutan tersebut menjalani pemeriksaan kesehatan, perawatan sesuai kebutuhan medis, serta observasi di fasilitas YIARI untuk memastikan kondisi kesehatannya sebelum ditranslokasikan. Selama observasi, orangutan-orangutan tersebut terpantau dalam kondisi sehat serta masih menunjukkan perilaku alami sebagai satwa liar.

Perjalanan translokasi dimulai sejak dini hari dari Pusat Rehabilitasi Orangutan YIARI di Sungai Awan, Kabupaten Ketapang. Tim menempuh perjalanan darat selama sekitar enam jam dan melanjutkan perjalanan menggunakan perahu selama satu jam dan berjalan kaki sekitar dua jam menuju titik pelepasan di dalam kawasan Hutan Lindung Batu Nyambu. Selama perjalanan menggunakan perahu, kandang transportasi dilengkapi pelampung untuk menjaga keselamatan, sedangkan pada jalur menuju titik pelepasan, kandang dipikul dengan bantuan masyarakat setempat.

Sepanjang perjalanan, dokter hewan secara berkala memeriksa kondisi orangutan serta memastikan kebutuhan pakan dan air minum tetap terpenuhi. Proses pelepasan dimulai pukul 12.00 WIB secara bergiliran di beberapa titik yang berjarak sekitar 80 meter satu sama lain. Setelah pelepasan, tim melakukan pemantauan singkat dengan tetap menjaga jarak dan meminimalkan kehadiran manusia guna menghindari stres, mengingat seluruh individu merupakan orangutan liar yang perlu kembali beraktivitas secara alami di habitatnya.

Hutan Lindung Batu Nyambu sendiri dipilih sebagai lokasi translokasi didasarkan pada kajian kesesuaian habitat dan daya dukung ekologis kawasan. Hutan lindung seluas sekitar 23.000 hektar ini memiliki tutupan hutan primer dan sekunder, dengan bentang alam berupa hutan dataran rendah hingga sub-pegunungan. Berdasarkan survey yang dilakukan pada 2023, kawasan ini merupakan habitat alami orangutan dengan estimasi daya dukung ekologis yang memadai. Kawasan tersebut menyediakan beragam tumbuhan pakan, pohon untuk membangun sarang, serta sumber air alami yang mendukung kebutuhan hidup orangutan.

Selain ketersediaan sumber daya alam, Hutan Lindung Batu Nyambu memiliki keterhubungan dengan sejumlah kawasan hutan lindung lainnya dalam lanskap Arabella–Schwaner. Konektivitas ini penting karena memungkinkan orangutan menjelajahi kawasan yang lebih luas untuk mencari pakan, terutama ketika ketersediaan buah mengalami perubahan musiman.

Direktur Operasional YIARI, Argitoeranting, menyatakan bahwa pemilihan lokasi translokasi tidak bisa dilakukan sembarangan. “Di tengah kebakaran hutan dan lahan yang masih berlangsung, kita dihadapkan pada situasi sulit. Banyak orangutan kehilangan habitatnya, sementara kawasan hutan yang aman untuk menampung mereka semakin terbatas. Karena itu, Hutan Lindung Batu Nyambu dipilih berdasarkan kajian daya dukung dan kesesuaian habitat yang menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki ketersediaan pakan, sumber air, ruang jelajah, serta keterhubungan dengan kawasan hutan lainnya. Kami ingin memastikan orangutan yang telah diselamatkan tidak hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi benar-benar memiliki kesempatan untuk bertahan hidup di habitat alaminya. Bahkan di tengah-tengah situasi Karhutla ini, lokasi ini masih cukup aman dan tidak pernah terbakar sejauh ini. Namun, translokasi bukanlah solusi akhir. Selama kebakaran masih berlangsung dan habitat terus terancam, upaya penyelamatan harus dibarengi dengan perlindungan hutan yang tersisa agar semakin banyak orangutan tidak kehilangan rumahnya,” ujarnya. “Saat ini masih banyak orangutan terdampak karhutla yang menjalani perawatan intensif di Pusat Rehabilitasi Orangutan YIARI akibat berbagai kondisi kesehatan serius, seperti luka bakar, malnutrisi, anemia berat, dan gangguan kesehatan lainnya. Orangutan-orangutan tersebut masih membutuhkan waktu untuk pulih sebelum dapat ditranslokasikan ke habitat alami yang aman dan sesuai. Di sisi lain, kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap masih terus mengancam habitat orangutan di Kalimantan Barat. Kondisi ini membuat upaya penyelamatan tetap mendesak, mengingat masih banyak orangutan yang bertahan di kawasan terdampak kebakaran dan membutuhkan pertolongan,” tambahnya lagi

CEO YIARI, Karmele Llano Sánchez, menyampaikan bahwa translokasi ini menjadi momen yang membahagiakan karena orangutan yang telah diselamatkan akhirnya mendapatkan kesempatan untuk kembali hidup bebas di alam. “Ini adalah momen yang sangat membahagiakan bagi kami, karena orangutan liar seharusnya hidup bebas di habitat alaminya, bukan terkurung di kandang. Orangutan-orangutan ini telah mengalami trauma dan berbagai dampak akibat kebakaran hutan yang menghancurkan habitat mereka, hingga mereka kehilangan tempat tinggal. Meskipun begitu, kita juga harus menyadari bahwa translokasi seperti ini merupakan langkah yang terpaksa harus diambil ketika habitat mereka sudah tidak lagi aman. Perlindungan habitat akan selalu menjadi prioritas utama untuk memastikan orangutan tetap memiliki hutan yang aman untuk hidup, namun selama habitat mereka masih terancam, penyelamatan menjadi salah satu pilihan terbaik yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka bertahan hidup,” ujar Karmele.

Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menyampaikan “Sejak 1 Agustus hingga 9 Oktober 2026, Balai KSDA Kalimantan Barat bersama YIARI telah melakukan upaya penyelamatan terhadap 46 individu orangutan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan. Hari ini, untuk pertama kalinya, orangutan yang terdampak karhutla mulai ditranslokasi ke habitat yang sesuai dan relatif aman dari risiko kebakaran, yaitu Hutan Lindung Batu Nyambu, setelah dinyatakan sehat. Upaya penyelamatan satwa liar tidak berhenti pada penyelamatan dan translokasi. Keduanya merupakan bagian dari strategi konservasi yang lebih luas. Hal terpenting adalah bagaimana kita bersama-sama menyediakan ‘rumah’ yang aman dan layak bagi satwa liar. Sebagai sesama ciptaan Tuhan, seluruh makhluk hidup memiliki tempat dalam keseimbangan alam. Manusia, dengan akal budi yang dimiliki, memikul tanggung jawab besar untuk menjaga kelestariannya. Karena itu, diperlukan pemahaman, kesadaran, komitmen, dan aksi nyata dari semua pihak untuk menjaga alam agar tetap menjadi rumah yang layak bagi seluruh makhluk hidup. Kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah melaporkan keberadaan orangutan yang membutuhkan evakuasi akibat karhutla, serta seluruh pihak yang telah terlibat dalam proses penyelamatan hingga translokasi.”

Kepala KPH Ketapang Utara, Ya’ Suharnoto, mengatakan, “Pemilihan lokasi translokasi di HL Batu Nyambu merupakan langkah yang tepat untuk penyelamatan satwa khususnya orangutan yang merupakan spesies kunci (keystone species) karena memiliki peran vital dalam menjaga kesehatan ekosistem hutan tropis dan keseimbangan ekosistem hutan. Saya mengapresiasi kolaborasi dan kepercayaan Dinas LHK Provinsi Kalimantan Barat, BKSDA Kalimantan Barat Kementerian Kehutanan, dan YIARI atas pemilihan lokasi translokasi di wilayah kelola KPH Ketapang Utara. Pemilihan lokasi di HL Batu Nyambu di Kecamatan Hulu Sungai Kabupaten Ketapang telah dilakukan kajian sosial dan habitat oleh KPH Wilayah Ketapang Utara dan YIARI. Translokasi ini bukan sekedar pemindahan fisik satwa, melainkan bagian dari mitigasi risiko jangka panjang dan strategi penting untuk menjaga keberlanjutan ekosistem di habitat aslinya. Ke depan pasca translokasi ini saya berharap agar sosialisasi, patroli pengamanan kawasan hutan di wilayah HL Batu Nyambu terus dilakukan secara rutin. Saya juga berharap penanaman pohon yang menghasilkan bunga dan buah-buahan sebagai makanan orangutan diperbanyak.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.