
MBN/PULANG PISAU/KALTENG – Kegiatan Reses Perseorangan Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah Dapil V, Ir. Nyelong Inga Simon, di Kabupaten Pulang Pisau disambut antusias warga. Kegiatan yang berlangsung 23 hingga 30 Agustus 2026 ini dihadiri lebih dari 90 orang, melebihi target awal sebanyak 75 peserta.
Dalam kegiatan tersebut, Ir. Nyelong Inga Simon memfokuskan pembahasan pada dua hal utama, yaitu pengembangan padi lokal dan evaluasi Kelompok Usaha Bersama di wilayah Dapil V.
“Konsentrasi saya ada beberapa hal. Yang pertama adalah tentang padi lokal. Padi lokal ini kelihatan sekali daya tahannya, karena dia memang adaptif dengan kondisi lokal,” ujar Ir. Nyelong Inga SimonĀ di hadapan warga, Rabu (27/8/2026).
Politisi PDI Perjuangan itu meyakini, dengan pengembangan padi lokal, Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau tidak akan kekurangan beras. Bahkan ke depan, kedua daerah tersebut berpotensi menjadi lumbung pangan dan mampu mensuplai ke Palangkaraya hingga Banjarmasin.
“Caranya tetap cara turun-temurun, hanya perlu sedikit perubahan untuk mempercepat pertumbuhan. Seperti diberi sedikit pupuk pada saat persemaian dan menjelang pembuahan. Itu bedanya,” jelasnya.
Ir. Nyelong Inga Simon juga menyoroti kelemahan padi unggul yang membutuhkan perawatan intensif dan berisiko gagal panen. Untuk itu, pihaknya mewacanakan pemberian nama brand untuk padi lokal tersebut.
“Padi lokal ini kami wacanakan namanya ‘Nyai Undang’. Kami sudah melakukan pengujian terhadap kontinuitas produksinya agar tidak punah, tetapi justru berkembang,” tegasnya.

Fokus kedua dalam reses ini adalah evaluasi UMKM dan Kelompok Usaha Bersama. Ir. Nyelong Inga Simon menyebut program “10 lombok dalam satu keluarga” dari LPDN sudah banyak yang berkembang hingga di atas 100 batang. Jenis lombok yang dikembangkan adalah lombok tajik yang bisa bertahan 2,5 hingga 5 tahun.
Selain itu, beberapa UMKM lain yang dievaluasi meliputi produksi lamang, anyaman purun, telur asin, pengemasan beras lokal, dan kerajinan meroncek.
“Lamang di Pulang Pisau ini sudah menjadi oleh-oleh khas. Kalau ditambah telur asin, ribut kalau tidak berproduksi. Begitu juga purun, kreasinya sudah untuk oleh-oleh,” katanya.
Untuk anyaman purun, Ir. Nyelong Inga Simon mendorong agar produk dikemas lebih menarik dan para ibu-ibu dilatih pemasaran online. “Pertama kali orang melihat akan tertarik. Kalau packaging-nya kurang bagus, orang bisa mundur,” pesannya.
Terkait kerajinan meroncek, Ir. Nyelong Inga Simon mengatakan pelatihan sudah dilakukan bersama GKI dan Universitas Veteran Jawa Timur. Bahannya berasal dari daur ulang sampah plastik, limbah kayu, dan kaca.
“Kami sudah komunikasi dengan Barito Pacific Group untuk pengembangan ke arah industri. Tapi yang menjalankan tetap orang lokal sini melalui koperasi milik LPDN,” pungkasnya.
Seluruh aspirasi yang terjaring dalam kegiatan reses ini akan dilaporkan dan diperjuangkan Ir. Nyelong Inga SimonĀ dalam rapat-rapat di DPRD Provinsi Kalimantan Tengah agar dapat diakomodir dalam kebijakan dan anggaran daerah. (ron)

