MBN//Jakarta — Kabar terbaru dari Kementerian Haji dan Umrah membawa angin segar bagi jutaan masyarakat Indonesia yang selama ini menunggu kesempatan untuk menunaikan ibadah haji.
Dari sekitar 5,7 juta data jemaah haji yang divalidasi, ditemukan sekitar 400 ribu data yang dinyatakan tidak valid. Setelah dilakukan pembersihan dan penghitungan kembali, masa tunggu haji secara faktual disebut kini rata-rata sekitar 14 tahun.
Sebelumnya, masa tunggu haji bahkan pernah mencapai 49 tahun. Pemerintah kemudian mengubah formula penghitungan sehingga rata-rata antrean administratif sempat menjadi 26 tahun. Namun Presiden Prabowo Subianto meminta agar masa tunggu tersebut terus dipangkas.
Langkah validasi jutaan data ini menjadi bagian penting dari pembenahan tata kelola haji. Data yang tidak valid tentu tidak seharusnya terus berada dalam sistem antrean dan memengaruhi hak masyarakat yang benar-benar menunggu keberangkatan.
Ini bukan sekadar soal angka. Ini menyangkut keadilan.
Di tengah masyarakat yang telah bertahun-tahun menabung dan menunggu panggilan ke Tanah Suci, pembenahan data menjadi sesuatu yang sangat penting.
Jika sebelumnya masyarakat dibuat bertanya-tanya mengapa antrean begitu panjang, kini pemerintah dituntut membuka semuanya secara transparan: berapa data yang tidak valid, apa penyebabnya, siapa yang bertanggung jawab, dan apakah pernah terjadi penyalahgunaan atau permainan dalam pengelolaan kuota haji?
Dugaan adanya praktik jual-beli atau permainan kuota tentu harus dibuktikan melalui pemeriksaan dan penegakan hukum. Jangan sampai hak masyarakat untuk beribadah justru menjadi ladang kepentingan pihak-pihak tertentu.
Aksi bersih-bersih dan pembenahan data harus terus dilanjutkan.
Rakyat berharap sistem haji ke depan benar-benar transparan, adil, bersih dari permainan, dan berpihak kepada jemaah.
Dari antrean yang pernah mencapai 49 tahun, kini masa tunggu faktual disebut sekitar 14 tahun.
Semoga ini menjadi awal lahirnya tata kelola haji yang lebih bersih dan berkeadilan.
Haji adalah panggilan ibadah, bukan komoditas untuk dipermainkan.
Tim


