Asap Makin Pekat, Jarak Pandang di Marau Dilaporkan Hanya 10–15 Meter pada Pagi Hari — Forkopimcam Bergerak Lindungi Kesehatan Warga dari Ancaman ISPA.
MBN// Ketapang// Kalbar – Kepedulian terhadap kesehatan masyarakat di tengah kepungan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) ditunjukkan oleh jajaran Koramil 1203-07 Marau bersama Polsek Marau, pihak Kecamatan Marau, dan Puskesmas Marau melalui kegiatan pembagian masker kepada masyarakat, Kamis (14, 15 & 16 Oktober 2026).
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB tersebut menyasar masyarakat dan para pengendara yang melintas di wilayah Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Pembagian masker ini dilakukan sebagai langkah pencegahan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan, khususnya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), akibat paparan asap yang semakin pekat.
Personel Koramil 1203-07 Marau bersama sejumlah personel Satuan Tugas (Satgas) Karhutla dari Yon TP 542 Mojokerto serta petugas Puskesmas Marau turun langsung membagikan masker yang telah disiapkan, terutama kepada pengendara yang melintas tanpa menggunakan pelindung pernapasan.
JARAK PANDANG HANYA 10–15 METER, ASAP KARHUTLA JADI PERHATIAN SERIUS
Salah satu Babinsa, Sertu Bahtiar, yang ikut langsung dalam kegiatan tersebut, menyampaikan bahwa pembagian masker merupakan bentuk kepedulian TNI terhadap keselamatan dan kesehatan masyarakat yang setiap hari terpapar kabut asap.
Menurutnya, kondisi asap di Kecamatan Marau terpantau cukup pekat, terutama pada pagi hari. Bahkan, jarak pandang dilaporkan hanya berkisar antara 10 hingga 15 meter, sehingga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan membahayakan keselamatan pengguna jalan.
“Saya diperintahkan langsung oleh Danramil 07 Marau, Kapten Candra R.A., untuk ikut melaksanakan kegiatan pembagian masker sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat akibat asap Karhutla yang menyelimuti Kecamatan Marau hampir setiap hari, terutama pada pagi hari. Jarak pandang hanya berkisar antara 10 sampai 15 meter, walaupun pada malam hari kabut asap berangsur-angsur menipis,” terang Sertu Bahtiar.
Ia berharap, melalui pembagian masker tersebut, masyarakat semakin menyadari pentingnya menjaga kesehatan dan meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di tengah kondisi udara yang tercemar asap.
PUSKESMAS MARAU KERAHKAN PETUGAS KESEHATAN
Kepedulian serupa juga ditunjukkan oleh Puskesmas Marau. Kepala Puskesmas Marau, Silus, menyampaikan bahwa pihaknya mengerahkan sejumlah petugas kesehatan untuk membantu mengurangi dampak paparan asap terhadap masyarakat.
Menurut Silus, selama tanggal 14, 15, dan 16 Oktober 2026, Puskesmas Marau menurunkan sekitar empat hingga enam petugas untuk mendukung upaya perlindungan kesehatan masyarakat di tengah kondisi kabut asap.
“Puskesmas Marau sendiri
mulai tanggal 14, 15, dan 16 Oktober menurunkan empat sampai enam petugas untuk mengurangi dampak asap bagi kesehatan masyarakat. Kami berharap ke depannya segera turun hujan agar tidak terjadi lagi kebakaran hutan dan lahan serta polusi asap,” ungkap Silus.
Keterlibatan petugas kesehatan dalam kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari upaya pencegahan, mengingat paparan asap dalam jangka waktu tertentu dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.

MASYARAKAT APRESIASI LANGKAH FORKOPIMCAM MARAU
Kegiatan pembagian masker tersebut mendapat dukungan dari masyarakat. Kehadiran unsur TNI, Polri, pemerintah kecamatan, dan tenaga kesehatan dinilai sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap kondisi yang sedang dihadapi warga Kecamatan Marau.
Bagi masyarakat, kabut asap bukan sekadar persoalan jarak pandang, tetapi juga menyangkut kesehatan, kenyamanan, dan kelancaran aktivitas sehari-hari. Kondisi ini semakin memprihatinkan ketika asap pekat terus menyelimuti wilayah permukiman dan jalan yang digunakan masyarakat untuk bekerja maupun menjalankan aktivitas lainnya.
Karena itu, masyarakat berharap langkah pencegahan melalui pembagian masker dapat terus dilakukan selama kondisi udara belum membaik. Selain itu, upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan serta pencegahan munculnya titik api juga diharapkan semakin diperkuat agar sumber pencemaran asap dapat segera dikendalikan.
PENCEGAHAN HARUS BERJALAN SEIRING DENGAN PENANGANAN KARHUTLA
Pembagian masker menjadi salah satu langkah perlindungan langsung bagi masyarakat. Namun, upaya tersebut perlu berjalan beriringan dengan penanganan sumber asap, pemantauan kualitas udara, serta edukasi mengenai bahaya paparan asap Karhutla.
Masyarakat juga diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap sangat pekat, menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel, serta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gejala pernapasan yang memburuk.
Sinergi antara TNI, Polri, pemerintah kecamatan, tenaga kesehatan, dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat perlindungan warga Kecamatan Marau dari dampak kabut asap.
Di tengah kondisi asap yang masih menjadi ancaman, kepedulian bersama perlu diwujudkan bukan hanya melalui pembagian masker, tetapi juga melalui langkah nyata dan berkelanjutan untuk mencegah serta menangani kebakaran hutan dan lahan. LD


