Cahaya Literasi dari Talibun: Aksi Nyata Empat Srikandi UNIPA Bangun Tiga Pondok Baca di Desa Timu Tawa

oleh -8 Dilihat
oleh

MBN//NTT-Di tengah tantangan geografis dan keterbatasan akses buku di wilayah pelosok, semangat pengabdian anak muda kembali menyala terang. Empat mahasiswi tangguh dari Universitas Nusa Nipa (UNIPA) yang tergabung dalam satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2026 sukses menorehkan tinta emas di Desa Timu Tawa, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.

​Keempat mahasiswi inspiratif yang kerap dijuluki “Empat Srikandi KKN” ini adalah Meisy, Ayu, Lani, dan Lilis. Dengan dedikasi tinggi dan kerja keras, mereka berhasil mendirikan tiga pondok baca sekaligus di tiga dusun berbeda, yakni Dusun Ekko, Dusun Dungan, dan Dusun Bubuk.
​Kehadiran pondok baca ini bukan sekadar program kerja akademis semata, melainkan buah dari inspirasi mendalam terhadap gerakan literasi akar rumput yang digagas oleh Pondok Baca Kampung Kabor.

​Sinergi dan Pasokan Buku dari Kampung Kabor

​Keberhasilan pembangunan fasilitas literasi di tiga dusun ini tidak lepas dari kolaborasi erat dengan sang pionir literasi lokal, Yohanes Kia Nunang atau yang akrab disapa Yanto De Flores, selaku pendiri Pondok Baca Kampung Kabor. Seluruh koleksi buku bacaan perdana di ketiga pondok baca baru tersebut didatangkan langsung dari Pondok Baca Kampung Kabor, berkat dukungan penuh yang diberikan secara cuma-cuma.

​Langkah inovatif dan keberanian keempat mahasiswi ini mendapat apresiasi tinggi dari Yanto De Flores. Ia memuji ketangguhan Meisy dan kawan-kawan yang mampu menterjemahkan semangat berbagi ilmu nyata ke tengah masyarakat pedesaan.

​”Ini adalah langkah progresif yang luar biasa. Keempat Srikandi UNIPA ini membuktikan bahwa mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pengamat, tetapi sebagai agen perubahan yang membawa cahaya pengetahuan bagi anak-anak di pelosok desa,” ungkap Yanto.

​Suara Hati dan Harapan untuk Keberlanjutan

​Ketua Kelompok KKN, Meisy, mewakili rekan-rekannya menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada berbagai pihak yang telah mambantu menyukseskan misi mulia tersebut. Utamanya kepada Kaka Yanto yang senantiasa menjadi mentor dan penyokong utama suplai buku gratis.

​”Kami sangat berterima kasih kepada Kaka Yanto yang telah memberikan kami motivasi, semangat, serta support buku-bukan bacaan secara gratis untuk anak-anak di sini. Terima kasih yang tak terhingga juga kami sampaikan kepada masyarakat di tiga dusun Ekko, Dungan, dan Bubuk, serta Pemerintah Desa Timu Tawa yang menyambut kami dengan tangan terbuka,” ujar Meisy penuh haru.

​Meisy dan kelompoknya menaruh harapan besar agar keberadaan pondok-pondok baca ini dapat terus hidup dan menjadi pusat peradaban desa, melampaui batas waktu penugasan KKN mereka di lokasi tersebut.

​”Semoga Pondok Baca ini terus berlanjut sampai selamanya, tidak hanya berhenti pada saat kami ada di lokasi KKN,” tambahnya.

​Pesan Hangat untuk Masa Depan Literasi

​Sebagai bentuk ikatan persaudaraan literasi yang berkelanjutan, Yanto De Flores menitipkan pesan khusus bagi warga dan aparat Desa Timu Tawa. Ia membuka pintu seluas-luasnya bagi siapa saja dari desa tersebut yang berkunjung ke Kota Maumere untuk mampir ke Pondok Baca Kampung Kabor.

​”Kalau bapak, ibu, adik-adik, atau aparat desa turun ke Maumere, sempatkanlah singgah di Pondok Baca Kampung Kabor. Jika ada edisi buku-buku baru yang tersedia, silakan dibawa pulang untuk memperkaya bahan bacaan di Timu Tawa,” pesan Yanto menutup perbincangan.

​Aksi nyata dari Meisy, Ayu, Lani, dan Lilis di Desa Timu Tawa ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara dunia kampus, penggerak literasi lokal, dan masyarakat desa mampu merajut harapan baru demi masa depan generasi muda yang lebih cerdas dan gemar membaca.

Editor: Teridius Balang 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.